Membangun Bangsa yang Cerdas Dimulai dari Akses Membaca
Indonesia merupakan negara yang lahir dari pemikiran dan imajinasi para tokoh yang gemar membaca. Sejarah mencatat bahwa sejumlah tokoh pendiri bangsa memiliki hubungan erat dengan buku dan dunia literasi. Tan Malaka rela mengorbankan kebutuhan hidupnya demi mengumpulkan buku. Soekarno telah membaca sejak usia muda hingga menjadikan buku sebagai bagian penting dalam perjalanan pemikirannya. Mohammad Hatta bahkan membawa peti-peti berisi buku ketika diasingkan ke Boven Digoel. Sementara itu, R.A. Kartini menjadikan buku sebagai sahabat di tengah keterbatasan ruang gerak yang dialaminya.
Membangun Bangsa yang Cerdas Dimulai dari Akses Membaca
Indonesia merupakan negara yang lahir dari pemikiran dan imajinasi para tokoh yang gemar membaca. Sejarah mencatat bahwa sejumlah tokoh pendiri bangsa memiliki hubungan erat dengan buku dan dunia literasi. Tan Malaka rela mengorbankan kebutuhan hidupnya demi mengumpulkan buku. Soekarno telah membaca sejak usia muda hingga menjadikan buku sebagai bagian penting dalam perjalanan pemikirannya. Mohammad Hatta bahkan membawa peti-peti berisi buku ketika diasingkan ke Boven Digoel. Sementara itu, R.A. Kartini menjadikan buku sebagai sahabat di tengah keterbatasan ruang gerak yang dialaminya.
Bagi mereka, buku bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan jendela untuk memahami kehidupan dan membayangkan dunia yang lebih baik. Melalui buku, lahir gagasan, kesadaran, serta keberanian untuk mengubah keadaan. Dengan demikian, Indonesia sebelum menjadi sebuah negara sesungguhnya telah lebih dahulu hadir sebagai sebuah imajinasi yang tumbuh dari pemikiran dan bacaan para pendiri bangsa.
Paradoks Literasi di Indonesia
Setelah puluhan tahun merdeka, Indonesia telah mengalami berbagai perubahan pemerintahan dan pergantian kepemimpinan. Namun, satu persoalan masih menjadi perhatian, yaitu hubungan negara dengan kebebasan masyarakat dalam membaca.
Dalam berbagai periode sejarah, buku kerap dipandang sebagai sesuatu yang perlu diawasi. Pada masa kolonial, bacaan tertentu dilarang karena dianggap dapat membangkitkan perlawanan. Pada masa Orde Baru, buku-buku yang dianggap berhaluan kiri dirazia dan disita karena dinilai mengganggu ketertiban serta mengancam ideologi negara. Bahkan pada masa sekarang, buku-buku tertentu juga dapat disita dan dikaitkan dengan tindakan kriminal, termasuk dalam konteks demonstrasi.
Kondisi tersebut memperlihatkan sebuah paradoks. Republik ini lahir dari pemikiran para pembaca buku, tetapi dalam perjalanan sejarahnya, negara justru berulang kali menunjukkan kekhawatiran terhadap apa yang dibaca oleh masyarakat.
Siapa yang Sebenarnya Bertanggung Jawab atas Rendahnya Minat Baca?
Rendahnya minat baca masyarakat sering kali dianggap sebagai persoalan yang sepenuhnya berasal dari individu. Masyarakat disebut malas membaca, perpustakaan yang sepi dianggap sebagai bukti rendahnya kesadaran literasi, sementara mahalnya buku kerap diserahkan kepada mekanisme pasar.
Padahal, ada pertanyaan yang lebih mendasar untuk diajukan. Seberapa banyak perpustakaan yang layak dikunjungi tanpa harus menempuh perjalanan berjam-jam? Seberapa mudah masyarakat memperoleh buku berkualitas tanpa harus selalu membelinya? Apakah ruang baca tersedia dekat dengan lingkungan masyarakat berpenghasilan rendah? Dan sejauh mana negara benar-benar berupaya menyediakan akses membaca yang terjangkau bagi seluruh warga?
Persoalan literasi tidak cukup diselesaikan dengan mengajak masyarakat agar lebih rajin membaca. Ketersediaan buku, fasilitas perpustakaan, ruang baca yang nyaman, serta pemerataan akses pengetahuan juga menjadi faktor penting. Tanpa dukungan tersebut, ajakan untuk meningkatkan minat baca berisiko hanya menjadi tuntutan yang dibebankan kepada masyarakat.
Pendidikan dan Literasi Membutuhkan Dukungan Nyata
Persoalan literasi juga tidak dapat dipisahkan dari kondisi pendidikan nasional. Guru dan dosen memiliki tanggung jawab besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, upaya tersebut membutuhkan dukungan berupa kesejahteraan tenaga pendidik yang layak, biaya pendidikan yang terjangkau, serta fasilitas pembelajaran yang memadai.
Ketika biaya pendidikan semakin sulit dijangkau dan kesejahteraan pendidik belum mendapatkan perhatian yang cukup, kesempatan masyarakat untuk memperoleh pengetahuan pun dapat semakin terbatas.
Negara tentu menginginkan masyarakat yang cerdas dan berpengetahuan. Namun, keinginan tersebut harus diwujudkan melalui kebijakan yang mendukung proses pendidikan dan memperluas akses terhadap sumber pengetahuan, bukan sekadar membebankan tanggung jawab kepada individu.
Membaca sebagai Jalan Menuju Kesadaran dan Perubahan
Membaca bukan hanya kegiatan memahami isi buku. Lebih dari itu, membaca merupakan proses membangun kesadaran, melatih kemampuan berpikir kritis, dan memperluas cara pandang terhadap berbagai persoalan.
Dari buku, seseorang dapat menemukan gagasan baru. Dari gagasan, lahir percakapan dan diskusi. Selanjutnya, diskusi dapat membangun kesadaran yang mendorong seseorang untuk berani menyampaikan pendapat serta memperjuangkan perubahan.
Bayangkan seorang petani yang setelah bekerja di sawah masih memiliki kesempatan membaca buku tentang sejarah dan politik. Pedagang kecil yang mampu menulis kritik mengenai harga kebutuhan pokok, upah, dan ketimpangan ekonomi. Pekerja yang memahami isi kontrak kerjanya dan berani memperjuangkan hak atas upah yang layak. Bahkan anak-anak yang baru belajar membaca dapat tumbuh menjadi generasi yang berani menyampaikan aspirasi melalui tulisan.
Inilah gambaran masyarakat literat: masyarakat yang tidak hanya mampu membaca, tetapi juga menggunakan pengetahuan untuk memahami keadaan dan mengambil bagian dalam perubahan.
Mencerdaskan Bangsa Adalah Tanggung Jawab Bersama
Selama masyarakat masih membaca, berdiskusi, dan berani mempertanyakan keadaan, harapan untuk membangun Indonesia yang lebih baik akan selalu ada. Buku dapat menjadi awal dari lahirnya kesadaran, kritik, dan keberanian untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih adil.
Karena itu, rendahnya minat baca tidak seharusnya hanya dilihat sebagai kesalahan masyarakat. Negara juga perlu mengevaluasi sejauh mana kebijakan dan fasilitas yang disediakan telah mendukung budaya literasi.
Masyarakat membutuhkan akses terhadap buku yang terjangkau, perpustakaan yang layak, ruang baca yang dekat, serta pendidikan yang dapat dinikmati oleh semua kalangan.
Pada akhirnya, mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya tentang meminta masyarakat untuk membaca lebih banyak. Negara juga harus memastikan bahwa setiap warga memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pengetahuan.
Sebab, bangsa ini tidak dilahirkan dari masyarakat yang malas membaca. Bangsa ini tumbuh dari gagasan para pembaca buku. Dan selama masyarakat terus membaca, Indonesia akan selalu memiliki kesempatan untuk dibayangkan, dikritik, dan dibangun menjadi lebih baik.
📖 Ingin meningkatkan kemampuan dan keterampilan membaca?
Temukan bukunya di sini:
https://getpress.co.id/product/keterampilan-membaca
Selamat membaca! 😊